Misteri Suara Langit

ilmukhirzaman.net – Suara keras di tengah malam Bulan Ramadhan (hadits As-sunnah) Suara Panggilan dari Langit di bulan Ramadhan (dituduh Hadits Rafidah).

Namun baik Kedua hadits ini ataupun salah satunya tetap saja tertulis dalam musnad antara lain Nu’aim Bin Hamaad rahimahullah, Al-Hakim (rahimahullah), Imam Alaudin Almuttaqi alhindi (rahimahullah) dan dteruskan pula dalam Kitab oleh Imam Albarzanji (rahimahullah) , Ibnu Hajar alhaytami (rahimahullah) dan lain-lain
Inilah Haditsnya :

أخرج ( ك ) نعيم بن حماد (986), والحاكم (4\503\8584) عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : في ذي القعدة تَجَاُدُب القبائل, و عامئذ ينهب الحاج فتكون ملحمة بمنى, [ فيكثر فيها القتلى, وتسفك فيها الدماء, حتى تسيل دماؤهم على عقبة الجمرة ], حتى يهرب صاحبهم فيؤتى به, بين الركن والمقام, فيبايع وهو كاره, [ ويقال له: إن أبيت ضربنا عنقك] , فيبايعه مثل عدة أهل بدر, يرضى عنه ساكن السماء وساكن الأرض

Amr bin Shuaib meriwayatkan dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Di Zul-Qa’da, akan ada perkelahian di antara suku-suku, peziarah Muslim akan dijarah dan akan ada pertempuran di Mina dimana banyak orang akan dibunuh dan darah akan mengalir sampai ia melewati Jamarat Al-Aqba (satu dari tiga pilar batu di Mina). Orang yang mereka cari akan melarikan diri dan akan ditemukan di antara Rukun (sebuah sudut Ka’bah yang mengandung Batu Hitam) dan Maqam Nabi Ibrahim (dekat Ka’bah). Dia akan dipaksa untuk menerima Bay’at (dipilih sebagai Pemimpin / Khalifah). Jumlah yang Membay’at akan sama dengan jumlah orang pada perang Badr (pejuang Muslim yang ikut dalam Pertempuran Badar). Kemudian, penghuni langit dan penghuni Bumi akan senang dengan dia. ‘(Hadits Nuaim bin Hammad).

Hadits ini dianggap dan dicap Palsu oleh sebagian Orang, saya telah coba mengecek di sebuah situs Islam Populer mengenai Hadits ini (saya tak sebutkan Nama Situsnya) Dalam situs tersebut entah disalin dari kitab Imam mana, dituliskan Rawi selengkapnya seperti ini :

قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, ) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “subhana Malikil Quddus, subhana Malikil Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

(Hadits Nu’aim bin Hammad kitab Al-Fitan Hadits No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi kitab Kanzul ‘Ummal, Hadits No.39627).

Disitu telah tertulis Hadits ini Dhaif Mudhu (Palsu) dengan rincian perawi sebagai berikut :
1. Nu’aim bin Hammad dia seorang perawi yang dha’if (lemah),
2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah) dia seorang perawi yang dha’if (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.
3. Abdul Wahhab bin Husain dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).
4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani dia seorang perawi yang dha’if (lemah dalam periwayatan hadits)
5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani. dia seorang perawi pendusta.

Sebelum kita lanjutkan kita sepakati dulu Penulis pertama Hadits ini Adalah Nu’aim bin Hammad rah.a. karena beliau yang petama kali menulis Hadits ini dalam Musnadnya. Di situs tersebut telah disimpulkan bahwa Hadits ini Maudhu (palsu). Mari kita lihat siapa-siapa yang mendudukan sanad hadits ini dalam status Maudhu :
1.Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”
2. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini palsu (maudhu’)
3. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, hadits ini batil dan dusta”

Studi Kasus

Sebuah Hadits yang dusta Harusnya tidak sampai tertulis di dalam banyak kitab. Hadits maudhu’ merupakan hadits Dhaif tingkat 1 dari 49 jenis hadits dhaif dan telah jelas ‘Palsu’. Sehingga para ulama’ sepakat haramnya periwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya.

Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan perkataanku (hadits) sedang dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta.” (HR. Muslim).

Dari kesimpulan di atas maka jelaslah Nu’aim Adalah Pendusta, tapi apakah Nuaim seorang Pendusta? Jika begitu maka semua Imam Alhafizh yang meneruskan Hadits ini adalah pendusta termasuk Imam Al-Bukhari, yang berguru kepadanya dan mengambil banyak hadits daripada Nya karena mereka pastilah telah mengetahui Nuaim pendusta.

Jika Al-Bukhari saja bukanlah sembarang orang maka sudah pasti gurunya bukanlah sembarang orang pula saya kisahkan bagaimana ‘Khauf’ nya seorang Bukhari (ketakutan kepada Allah). Suatu ketika Bukhari melakukan perjalanan panjang ingin mencari seorang penghafal hadits tersohor untuk maksud berguru padanya. Setelah perjalanan lama akhirnya sampailah ia di rumah sang Imam Muhadditsin yang dicari, sang Imam dengan senang hati menerima dan menjamunya di hari pertama, suatu ketika Bukhari melihat sang Imam memanggil ayam-ayamnya dengan isyarat tangan memberi makan padahal Bukhari mengetahui di tangan sang Imam tak ada makanan melainkan hanya membohongi ayam-ayam itu, sontak Bukhari langsung berbalik hati membatalkan niatnya dan berpamitan pergi, beliau tak mau berguru pada seorang pendusta sekalipun tersohor.

Kisah ini diceritakan oleh Bukhari, ia merasa tak menyesal sedikit pun telah melakukan perjalanan lama dan jauh ia malah bersyukur telah diperlihatkan isyarat.

Kembali kepada Nu’aim, belum diketahui pasti bagaimana kisah perjumpaan Nu,aim dengan Bukhari, disini kita tidak akan membahas kisah Nuaim karena tulisan ini mebahas Hadits Suara langit. Nuaim adalah seorang jujur dan tsiqah di mata beberapa hafidz dan seorang ahli ‘Fuqaha’ di jaman Khalifah ar-rasyid sejaman dengan iman Ahmad bin Hambal.

Jika pun ada yang memberikan pandangan miring itu diarahkan pada beberapa haditsnya, bukan pada dirinya adapun mengenai hadits-hadits yang dinilai bermasalah itu hanyalah wahm saja. Hadits-Hadits Nuaim yang ia keluarkan pada 6 kitabnya yang terkenal beberapanya dipakai oleh Annasa’i Abu Dawud dan Imam Bukhari. Pada permasalahan hadits palsu ini saya mencoba mengamati satu persatu perawinya karena ada pula yang menyerang langsung pada diri Nua’im hingga terkesan Nu’aim pengada-ada Hadits, namun hanya 2-3 orang saja, coba lihat perawi urutan ke 3, yaitu Abdul wahhab bin Husain, pada situs yang saya baca Abdul wahhab terlemahkan, Penulis situs mengambil Hujjah dari Al-Hakim bahwa ia seorang yang lemah dan dari Az-zahabi bahwa ia mempunyai riwayat palsu, namun ada yang sedikit mengundang tanya, keganjilan Pertama : saya berfikir bahwa penulis tidak mengetahui kalaulah hadits diatas (yang dipermasalahkan) juga ditulis oleh Al-hakim dalam Kitabnya.

Lihat hadits paling atas disitu tertulis dalam arabnya Alhakim nomor hadits .986 dengan kalimat Hadits seperti ini:
Abu Huraira r.a mengatakan bahwa Nabi SAW berfirman:

“Akan ada Hadda (ledakan atau bunyi palu yang kuat) di bulan Ramadhan yang akan membangunkan seseorang yang sedang tidur, dan menakutkan orang yang sudah bangun. Kemudian, akan ada kelompok [‘isaba] di Syawal, lalu pertumpahan darah di (bulan) Zul-Hijjah. Kemudian pelarangan itu akan dilanggar pada (bulan) Al-Muharram. Kemudian, akan ada kematian di bulan Safar Kemudian suku-suku akan bertengkar satu sama lain di bulan Rabiul ‘, maka hal yang paling menakjubkan akan terjadi antara bulan Jumada dan Rajab. Kemudian, unta betina yang cukup makan akan lebih baik daripada sebuah puri yang melindungi seribu orang. ” (Hadits Al-Haakim)

Keganjilan kedua mengapa hanya hadits Nu’aim yang mereka permasalahkan sementara hikayat yang sama yang langsung disanadkan pada Ali bin abi thalib k.w tidak dibahas, seperti hadits berikut ini,
Ali bin Abi Thalib k.w./r.a berkata: “Tunggulah sampai akhir kesengsaraan dengan terjadinya tiga hal.” Kami berkata: Apa mereka,? Dia berkata: “Perselisihan di antara orang-orang Syam, Kaum berpanji Hitam, dan Qaz’a di bulan Ramadhan. Ia ditanya: “Apa itu Qaz’a? Dia berkata: “Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang Allah katakan di dalam Al-Qur’an (asy,syuaraa : 4) Jika kami menginginkan, Kami dapat mengirimkan kepada mereka dari langit sebuah tanda, yang membuat kunuk mereka menyerah padanya (terpesona dengan takjub). ‘Ayat (tanda) ini yang membuat seorang anak perempuan keluar dari kamarnya, membangunkan orang yang sedang tidur, dan menakutkan orang yang sudah bangun. “(Ibnu Al-Shajari’s Al-Amali Al-Shajaria)

Begitupun Hadits berikut,
حدثنا الوليد ورشدين عن ابن لهيعة عن أبي قبيل عن أبي رومان عن علي رضى الله عنه قال بعد الخسف ينادي مناد من السماء إن الحق في آل محمد في أول النهار ثم ينادي مناد في آخر النهار إن الحق في ولد عيسى وذلك نحوه من الشيطان

Ali bin Abi Talib kw.ra berkata: “Setelah Khusf (tanah tenggelam), akan ada penyebut dari Langit memanggil: ‘Kebenaran ada dalam keluarga Muhammad’ pada awal pagi hari. Kemudian, pemanggil lain di akhir pagi seruan: “Kebenaran ada pada keluarga Isa (Yesus).” Panggilan kedua ini berasal dari Setan”. Abi ja’far meriwayatkan panggilan kedua berasal dari dasar bumi.

Kesimpulan

Jarh (cacat) dan ta’diil (bersih) atau yang dikenal Jarh wa ta’dil adalah ijtihad ulama dalam ilmu hadits. Jarh yang berlaku kepada seorang perawi hadits tidak bisa sepenuhnya kita terapkan, melainkan harus dipertimbangkan pula ta’dil untuknya apalagi bila ta’dil tersebut berasal dari para ulama yang pendapatnya sangat diperhitungkan. Sebaliknya, ta’dil juga tidak bisa kita terapkan begitu saja jika ada jarh untuk perawi tersebut terutama jika jarh-nya tergolong jarh yang dijelaskan (jarh mufassar). Jika seorang perawi hadits memiliki sifat Tadil (adil dan Hafal/Hafizh) bahwa hadis yang diriwayatkannya dapat diterima. Apalagi untuk sekelas Pengembang Ilmu syariat dan fiqih seperti Nu’aim rah.a

Imam Adz-zahaabi sendiri hanya memasukan Haditsnya pada dhaif Munkar (banyak cacat) namun tak berani me-maudhukan. Karena Zahabi tahu persis siapa sosok Nu’aim, tidaklah mungkin seorang jujur Nu’aim bermain-main dengan Hadits apalagi memalsukannya.

Dan uniknya hadits ini pula masih ditulis dalam kitab di era Milenium yaitu Ensiklopedi Akhir Zaman yang dirilis 2014-2015 oleh seorang Ulama Besar Dr. M.Ahmad Almubayyadh. Dalam kitab itu hadits ini berstatus Dhaif .
Terakhir, apabila hadits-hadits dalam kitab telah dituliskan lengkap dengan sanad-sanadnya seperti kitab musnad, maka ia telah lepas dari beban tanggung jawab. Tinggallah kita sekarang yang harus benar-benar mengeceknya dengan tidak tasahul (Gampangan) karena Imam syafi’i pernah berpesan : mencari sanad Ibarat mencari kayu bakar di malam hari.

Dan Sanad juga memungkinkan kita untuk mengecek kevalidan riwayat-riwayatnya dan memilah-milah mana yang shahih, hasan atau dha’if. Atau Tanpa melihat sanad pun boleh, contoh jika telah terlihat faktanya dengan tidak mengada (contoh hadits galian-galian di bukit di makkah yang statusnya tidak shahih namun sekarang menjadi shahih) yaitu banyaknya terowongan di bukit Makkah.

wallahualam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *