Nu’aim Bin Ahmad Pencetus kitab Al-Fitan

ilmuakhirzaman.net – Abu ‘Abdillah Nu‘aym bin Ḥammād al-Khuzaa’i al-Marwazi. Atau akrab disapa Abu Nu’aim, Ia dijuluki Farid atau Faradi karena sukses reputasinya di bidang Fikih hukum. wafat di Samara 228 H/ 18 Februari 843M. Diantara murid-muridnya adalah Al-Bukhaari,  Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy, Yahyaa bin Ma’iin, Muhammad bin Yahyaa Adz-Dzuhliy, Shaalih bin Mismaar Al-Marwaziy dan banyak lagi.

Sebagai Muhaddits beliau menempati 2 posisi yaitu perawi sekaligus Penulis Musnad Pertama di Dunia. Nu’aim ibnu Hammad belajar dan mengajar lebih dulu di Basrah Iraq, kemudian pindah ke Mesir di mana dia menetap selama empat puluh tahun. Dalam Riwayat teologis beliau pengikut ajaran Sunni Fanatik, Beliau pernah bergabung dan bermajelis  bersama-sama kelompok Mu’tazilah namun tak lama ia berbalik meyerang dan membongkar penyimpangan-penyimpangan Aqidah mu’tazilah.

Nu’aim bersama Ulama lainnya sangat berjaya leluasa belajar dan mengajar di masa Khalifah Harun Al Rasyid, wafatnya Al Rasyid dan pergolakan politik setelahnya pergantian Khalifah dengan terbunuhnya khalifah pengganti Al Rasyid mengubah Takdir, Nu’aim Termasuk banyak Ulama lainnya menjadi Korban Fitnah Khalqul Quran (Quran adalah Mahluk).

Nu’aim, termasuk Ahmad bin Hanbal dan muhammad bin Nuh  ditangkap dan dipenjara,  Pernyataan Nu’aim “Baginya ada dua Alquran. yang ada di atas meja adalah firman Allah, dan dalam genggaman, di tangan mereka adalah barang ciptaan”. Maksud Nu’aim diatas meja murni Firman yaitu Alquran itu sendiri. Dan Di tangan orang telah menjadi buatan sekehendak tafsir mereka.

Akibatnya, dia menolak Semua Manhaj akidah al-Qur’an al-Khalqqq / خلق القرآن / Halq al-Qur’ān dan ajaran-ajaran Mu’tazilah lainnya yang telah diakui oleh pemerintah Negara dan oleh karena dakwah penolakannya, Nuaim dideportasi dengan bersama Ulama lain dari Mesir ke Baghdad. Beliau meninggal di penjara di Samarra di Baghdad. Menyusul Muhammad bin Nuh yang wafat juga di penjara semoga syahid untuk mereka.

Tentang kredibilitas keilmuan Imam Nuaim bin hammad ada ikhtilaaf di kalangan ulama Jarh wa ta’dil. Namun Mayoritas (Jumhur) telah menyatakan dia dapat dipercaya dan seorang hasanul hadits dan beberapa ulama telah membuat Ta’dil Mufassar (pembersihan) pada dirinya. An-Nasaa’iy menyebutkan keutamaan-keutamaan Nu’aim dan beliau mendahulukannya dalam ilmu, ma’rifatul hadits dan sunnah-sunnah. Berikut adalah majmu fatwa Jumhur Kredibilitas Nu’aim sebagai Muhaddits :

  1. Imam Bukhari
    Imam Bukhari mengambil beberapa Hadits shahih dari beliau dalam Kitab shahih Bukhari antara lain :. [Jilid-1 No. 246], [Jilid 1-No 392] [Jilid 1 No. 3736] [Jilid 1 No. 3849] dan pada kitab lain.

 

2.Imam Muslim

Imam Muslim Mengambil Hadits Shahih dari beliau dalam Kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menempatkan Hadits beliau pada Pembukaan (Muqadimah) Halaman 17.

 

  1. Imam Yahya ibnu Main
    Imam Yahya berKata Ia”tsiqah” dalam [sawalat ibn junaid Hal.398-399] dan dari buku yang sama Ibnu Main berkata: Dia adalah teman saya di basrah. Kedua narasi ini diriwayatkan dari Ibnu Main didasarkan pada sahih Isnaad.

 

  1. Imam Tirmidzi

Imam Tirmidzi Menyatakan hadisnya telah menjadi ‘Sahih Gharib’.[Jami-ut-Tirmidzi bersama Tuhfadul Ahwadhi Jilid-3 Hal.17]

Jika Muhaddits menyatakan hadits apapun layak menjadi Sahih maka dia menganggap semua perawinya dapat dipercaya.[Al-Iqtiraah dari Ibn Daqiq Al-aid Hal.55, Nasb-ur-rayah dari zaili vJilid-3 hal-264]

 

  1. Imam al-mu’tadil al-Ajli
    Mengatakan : Ia Tsiqah [tarikh tsiqaat al-ajli Hal.451]Beberapa Ulama pada tahun 1400an memiliki kesalahpahaman bahwa Imam Al-Ajli adalah mutasaahil. Klaim ini banyak kekeliruan ditinjau dari banyak sudut Pandang :
  2. a) Imam Abbas ibn Muhammad Ad-Duri
    Memposisikan dia setara dengan Imam Ahmad Ibn Hanbal dan Imam Yahya ibnu Mai [Tarikh Baghdad 4/214 dengan sahih sanad]
    b) Imam Yahya ibnu Main
    Dikatakan “dia adalah tsiqah, ayahnya adalah tsiqah dan kakeknya adalah tsiqah” [tarikh baghdad 4/215 dengan sanad sahih]
    c) Thiqah Imam Walid ibn Bakr al-andalusi
    Menyatakan Hafidh seperti Ibn Maeen [tarikh baghdad 4/215 dengan sahih sanad]
    d) Tidak ada seorangpun dari Mutaqaddimin Muhaddits yang menyatakan ia seorang Mutasaahil

 

  1. Abu Hatim Ar-Razii
    Menyatakan Nu’aim seorang Saduuq lelak yang jujur [Al-jarh wa tadeel vol-8 p-464]

 

7.Imam Ibnu Hibban
Nu’aim disebutkan At-Tsiqaat [jilid-9 hal-219]
Ibnu Hibban juga mengambil hadis-hadisnya di kitab Sahih Ibn Hibban [al-ihsaan 341]

 

  1. Imam AL-Hakim
    Menyatakan Hadisnya menjadi Sahih [Mustadrak jilid-4 hal-145]
    Jika Muhaddits menyatakan hadis apapun dapat menjadi Sahih maka dia menganggap semua perawinya dapat dipercaya. [lihat Al-Iqtiraah dari Ibn Daqiq Al-aid hal-55, Nasb-ur-rayah dari zailii jilid-3 hal-264]

 

  1. Imam Adz-zhahabi

Menyatakan narasi tunggal Nuaim dapat menjadi sahih. [talkhis Mustadrak jilid-4 hal-145]

 

  1. Imam Ibnu Hajar Al-Haythami, Ia seorang “Tsiqah” [majm az-zawaid jilid-9 hal-347]

 

  1. Imam Ahmad ibn Hanbal
    Menyatakan Nu’aim Tsiqah. Dapat dilihat pada kitab : [Al-kaamil Ibnu Adi, Miizan Al-itidaal, Siyaar Alam An-Nubala, tahzib at-tahzib, Tahzeeb al-kamal]
    terdapat keraguan mengenai studi kasusnya namun didukung oleh beberapa pernyataan lain dari Imam Ahmad.

 

  1. Ibnu Adi Mengatakan, Selain beberapa hadits yang ditolak darinya, Semua hadisnya adalah Sahih. [Al-kaamil jilid-8 Hal-2489]

 

  1. AlHafizh Ibnu Hajar
    mengatakan dalam Taqrib al-tahzib: ‘Suduuq yaqta kasiir’. dan dikutip juga pernyataan Ibnu Adi.
    Dia mengatakan di Tahzib at-tahzib: Ini membuktikan bahwa Nuaim seorang kredibel dan dapat dipercaya, namun ada beberapa Wahm dalam beberapa narasi dan Ibn Adi telah mengumpulkan Wahm-nya

 

  1. 14. Imam Tahawi
    Mengambil banyak hadits darinya di sharh mushkil atsaar dan sharh maaniul atsaar dan tidak membuat jarh padanya dan membuat istidlaal dari hadisnya.

 

  1. 15. Imam Bayihaqi
    Mengambil Hadis hadis darinya dan menyatakan Hasan. [sunan kubra 3/410]

 

  1. 16. Imam Abu Awana
    Mengambil Hadis darinya dalam Sahih Abi Awaana Jil-1 328

 

  1. 17. Ibnu Jaarud
    mengambil Hadis darinya di Sahih Ibn Jaarud [341] dan mengambil istidlaal darinya.

 

  1. Imam Ibnu Khuzaymah
    Mengambil Hadis dari Nua’im di Sahihnya untuk dijadikan hujjah. [hadits jil-3 2236]

 

  1. 19. Imam An-Nawawi
    Menyatakan hadisnya telah sahih [Al-Arbain 41]

 

  1. 20. Allamah Aini Hanafi
    Menulis Hujjah dari Imam Ahmad yang menyatakan Nu’aim tsiqah dan menolak beberapa kritik [Umdatul qaari vol-1 hal-186]

 

  1. 21. Karmaani
    Di Sharh-nya sahih Bukhari disebutkan fatwa Imam Ahmad tentang Nu’aim dan tidak menerima sedikit ‘jarh’ (cacat) pun padanya. [lihat jil-3 hal-106]

 

  1. 22. Al-kharzaji
    Dalam khulasa at-tazhib at tahzib al-kamal fi asmaa rijaal mengutip putusan Imam Ahmad, Ibnu Main dan Al-Ajli tentang dia [seperti yang disebutkan di atas di mana mereka menyatakan dia tsiqah] dan tidak menyebutkan kritik apapun.

 

  1. Dan banyak lainnya seperti Ziya maqdisi di al-muqtaara dan yang lainnya dan mengambil hadisnya dengan menempatkan derajat sahih.

 

Ketika Jumhur Ulama, Fuqaha, Muhaddits telah mendeklarasikannya tsiqah, maka beberapa kritik terhadap Nya telah ditolak dan tertolak. Ada semacam keajaiban pada Kitab Nu’aim sekiranya ada diatas 10 kitab-kitab hadits yang pertama kali dibuat oleh beberpa Muhaddits di abad 2 H. namun semuanya telah Hilang ditelan Jaman.  Kitabnya Al-fitan sampai sekarang masih tersimpan utuh, dan beberapa telah di PDF kan namun tetap dalam bahasa Arab.

Dan sampai saat ini hadits-haditsnya dari kitab al fitan masih tertulis di banyak buku termasuk Ensiklopedi Akhir zaman dan dipakai oleh banyak ustad dan syeikh dalam ceramah-ceramah mereka tentang akhir zaman di youtube.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *